Hakikat manusia adalah sebagai berikut :
a. Makhluk yang memiliki tenaga dalam yang dapat menggerakkan hidupnya
untuk
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
memenuhi kebutuhan-kebutuhannya.
b. Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas
tingkah laku
intelektual dan sosial.
intelektual dan sosial.
c. Seseorang yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu
mengatur
dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya.
d. Makhluk yang dalam proses menjadi berkembang dan terus berkembang tidak
pernah
selesai selama hidupnya.
selesai selama hidupnya.
e. Individu yang dalam hidupnya selalu melibatkan dirinya dalam usaha untuk
mewujudkan
dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
dirinya sendiri, membantu orang lain dan membuat dunia lebih baik untuk ditempati.
f. Individu yang mudah terpengaruh oleh lingkungan terutama dalam
bidang sosial.
HAKIKAT
PENDIDIKAN
- Berbagai pendekatan.
Hakikat
pendidikan itu dapat dikategorisasikan dalam dua pendapat yaitu pendekatan
epistemologis dan pendekatan ontologi atau metafisik. Kedua pendekatan tersebut
tentunya dapat melahirkan jawaban yang berbeda-beda mengenai apakah hakikat
pendidikan itu.
Di dalam
pendidikan epistemologis yang menjadi masalah adalah akar atau kerangka ilmu
pendidikan sebagai ilmu. Pendekatan tersebut mencari makna pendidikan sebagai
ilmu yaitu mempunyai objek yang akan merupakan dasar analisis yang akan
membangun ilmu pengetahuan yang disebut ilmu pendidikan. Dari sudut pandang
pendidikan dilihat sebagai sesuatu proses yang interen dalam konsep manusia.
Artinya manusia hanya dapat dimanusiakan melalui proses pendidikan.
Berbagai
pendapat mengenai hakikat pendidikan dapat digolongkan atas dua kelompok besar
yaitu :
1.
Pendekatan reduksionisme
2.
Pendekatan holistik integratif
- Pendekatan Redaksional
Teori-teori
/ pendekatan redaksional sangat banyak dikemukakan di dalam khazanah ilmu
pendidikan. Dalam hal ini akan dibicarakan berbagai pendekatan reduksionaisme
sebagai berikut :
1.
Pendekatan pedagogis / pedagogisme
2.
Pendekatan Filasofis / religionisme
3.
Pendekatan religius / religionisme
4.
Pendekatan psikologis / psikologisme
5. Pendekatan
negativis / negativisme
6.
Pendekatan sosiologis / sosiologismu
1.
Pendekatan Pedagogisme
Titik tolak
dari teori ini ialah anak yang akan di besarkan menjadi manusia dewasa.
Pandangan ini apakah berupa pandangan nativisme schopenhouer serta menganut
penganutnya yang beranggapan bahwa anak telah mempunyai kemampuan-kemampuan
yang dilahirkan dan tinggal di kembangkan saja.
2.
Pendekatan Filosofis.
Anak manusia
mempunyai hakikatnya sendiri dan berada dengan hakikat orang dewasa. Oleh sebab
itu, proses pendewasaan anak bertitik-tolak dari anak sebagai anak manusia yang
mempunyai tingkat-tingkat perkembangan sendiri.
3.
Pendekatan Religius
Pendekatan
religius / religionisme dianut oleh pemikir-pemikir yang melihat hakikat
manusia sebagai makhluk yang religius. Namun demikian kemajuan ilmu pengetahuan
yang sekuler tidak menjawab terhadap kehidupan yang bermoral.
4.
Pendekatan Psikologis.
Pandangan-pandangan
pedagogisme seperti yang telah diuraikan telah lebih memacu masuknya psikologi
ke dalam bidang ilmu pendidikan hal tersebut telah mempersempit pandangan para
pendidik seakan-akan ilmu pendidikan terbatas kepada ilmu mengajar saja.
5.
Pendekatan Negativis.
Pendidikan
ialah menjaga pertumbuhan anak. Dengan demikian pandangan negativisme ini
melihat bahwa segala sesuatu seakan-akan telah tersedia di dalam diri anak yang
bertumbuh dengan baik apabila tidak dipengaruhi oleh hal-hal yang merugikan
pertumbuhan tersebut.
6.
Pendekatan Sosiologis.
Pandangan
sosiologisme cenderung berlawanan arah dengan pedagogisme. Titik-tolak dari
pandangan ini ialah prioritas kepada kebutuhan masyarakat dan bukan kepada
kebutuhan individu.
Peserta
didik adalah anggota masyarakat. Dalam sejarah perkembangan manusia kita lihat
bahwa tuntutan masyarakat tidak selalu etis. Versi yang lain dari pandangan ini
ialah develop mentalisme. Proses pendidikan diarahkan kepada pencapaian
target-target tersebut dan tidak jarang nilai-nilai kemanusiaan
disubordinasikan untuk mencapai target pembangunan. Pengalaman pembangunan
Indonesia selama Orde Baru telah mengarah kepada paham developmentalisme yang
menekan kepada pencapaian pertumbuhan yang tinggi, target pemberantasan buta
huruf, target pelaksanaan wajib belajar 9 dan 12 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar